Home        Profil        Sumber Dana        Donasi        Berita        Artikel        Tabloid GELORA        Gallery        Hubungi Kami    
    Home
    Profil
    Sejarah
    Visi & Misi
    Struktur
    Pengurus
    Serba-Serbi
    Syarat Pedonor Darah
    Jumlah Donor Darah Sukarela
    Daftar Alamat Kab./Kota
    Alamat UTD
    Seputar UTD
    Seputar Relawan
    Peta Rawan Bencana
    Hubungi Kami
Visitor:

638897




ARTIKEL

Demam Berdarah (DBD)

SHARE THIS: Bagikan artikel ini ke teman-teman Facebook Anda



Dimusim penghujan ini seringkali terjadi wabah penyakit demam berdarah, terutama bila terdapat genangan - genangan air dimana - mana, sehingga nyamuk Aedes aygpti bersarang dan mudah sekali untuk berkembangbiak. Dengan berkembangbiaknya nyamuk tersebut sangatlah mudah untuk menyebarkan penyakit dari gigitannya dan tanpa pandang bulu. Namun apakah kita mengetahui asal mula penyakit Demam Berdarah itu sendiri?. Menurut artikel infeksi Demam berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue Famili Flaviridae, dengna genusnya adalah flavivirus. Virus ini mempunyai empat srotipe yang dikenal dengan DEN-1,DEN-2,DEN-3, dan DEN-4. Selama ini secara klinik mempunyai tingkatan manifestasi yang berbeda, tergantung dari serotype virus Dengue. Morbiditas penyakit DBD menyebar di Negara - Negara Tropis dan Subtropis. Disetiap Negara penyakit DBD mempunyai manifestasi klinik yang berbeda.

Di Indonesia penyakit DBD pertama kali ditemukan pada tahun 1958 di Surabaya dan sekarang menyebar keseluruh propinsi di Indonesia. Timbulnya penyakit DBD ditenggarai adanya korelasi antara strain dan genetic, tetapi akhir - akhir ini ada tendensi agen penyebab DBDdisetiap daerah berbeda.

Infeksi virus Dengue telah menjadi masalah kesehatan yang serius pada banyak Negara tropis dan sub tropis. Kejadian penyakit DBD semakin tahun semakin meningkat dengan manifestasi klinis yang berbeda mulai dari yang ringan sampai berat. Manifestasi klinis berat yang merupakan keadaan darurat yang dikenal dngan Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) dan Dengue Shock Syndrome (DSS).

Manifestasi klinis infeksi virus Dengue termasuk didalamnya Demam Berdarah Dengue sangat bervariasi, mulai dari asimtomatik, demam ringan yang tidak spesifik, Demam Bengue, Demam Berdarah Dengue, hingga yang paling berat yaitu Dengue Shock Syndrome (DSS). Dalam praktek sehari - hari, pada saat pertama kali penderita masuk rumah sakit tidaklah mudah untuk memprediksikan apakah penderita Demam Dengue tersebut akan bermanifestasi menjadi ringan atau berat. Infeksi sekunder dengan serotype virus dengue yang berbeda dari sebelumnya merupakan factor resiko terjadinya manifestasi Demam Berdarah Dengue masih belum jelas, banyak factor yang mempengaruhi kejadian penyakit Demam Berdarah Dengue, antara lain factor host, lingkungan (environment) dan factor virusnya sendiri. Faktor host yaitu kerentanan (susceptibility) dan repon imun. Faktor lingkungan (environment) dyaitu kondisi geografi (ketingian dari permukaan laut, curah hujan, angin, kelembaban, musim); kondisi demogradi (kepadatan, mobilitas, perilaku, adapt istiadat, social ekonomi penduduk). Jenis nyamuk sebagai vector penular penyakit juga ikut berpengaruh. Faktor agent yaitu sifat virus Dengue, yang hingga saat ini telah diketahui ada 4 jenis serotype yaitu Dengue 1,2,3 dan 4. Penelitian terhadap epidemic Dengue di Nicaragua tahun 1998, menyimpulkan bahwa epidemiologi Dengue dapat berbeda tergantung pada daerah geografi dan serotype virusnya.

Vector

Virus Dengue ditularkan dari orang ke orang melalui gigitan nyamuk Aedes (Ae) dari subgenus Stegomyia, Ae,aeygpti merupakan vektor epidemic yang paling utama, namun spesies lain seperti Ae, albopictus, Ae, polynesiensis, anggota dari Ae. Scutellaris complez, dan Ae. (Finlaya) niveus juga dianggap sebagai vektor sekunder. Kecuali Ae,aegyti semuanya mempunyai daerah distribusi geografis sendiri - sendiri yang terbatas. Meskipun mereka merupakan host yang sangat baik untuk virus Dengue, biasanya mereka merupakan vektor epidemic yang kurang efisien disbanding Ae, aegypti.(WHO, 2000).

Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis infeksi virus Dengue pada manusia sangat bervariasi. Spektrum variasinya begitu luas, mulai dari asimtomatik, demam ringan yang tidak spesifik, Demam Dengue, Demam Berdarah Dengue, hingga yang paling berat yaitu Dengue Shock Syndrome (DSS), (Soegijanto, 2000). Diagnosis Demam Berdarah Dengue ditegakkan berdasarkan criteria diagnosis menurut WHO tahun 1997, terdiri dari criteria klinis dan laboratories. Penggunaan criteria ini dimaksudkan untuk mengurangi diagnosis yang berlebihan (overdiagnosis).

Kriteria Klinis

Demam tinggi mendadak, tanpa sebab jelas, berlangsung terus menerus selama 1-7 hari. Terdapat manifestasi perdarahan yang ditandai dengan:
- uji tourniquet positif
- Petekia, ekimosis, purpura
- Perdarahan mukosa, epistaksis, perdarahan gusi
- Hematemesis dan atau melena
- Hematuria
- Pembesaran hati (hepatomegali)
- Manifestasi syok/renjatan

Kriteria Laboratoris:
Trombositopeni (trombosit < 100.000/ml)
Hemokonsentrasi (kenaikan Ht > 20%)

Manifestasi klinis DBD sangat bervariasi, WHO (1997) membagi 4 derajat, yaitu :
Derajat I:
Demam disertai gejala - gejala umum yang tidak khas dan manifestasi perdarahan spontan satu - satunya adalah uji tourniquet positif.

Derajat II:
Gejala - gejala derajat I, disertai gejala - gejala perdarahan kulit spontan atau manifestasi perdarahan yang lebih berat.

Derajat III:
Didapatkan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lemah, tekanan nadi menyempit (< 20 mmHg), hipotensi, sianosis disekitar mulut, kulit dingin dan lembab, gelisah.

Derajat IV:
Syok berat (profound shock), nadi tidak dapat diraba dan tekanan darah tidak terukur.


Gejala
Gejala pada penyakit demam berdarah diawali dengan :
a. Demam tinggi mendadak, >38 C, 2-7 hari
b. Demam tidak dapat teratasi maksimal dengan penurun panas biasa
c. Mual, muntah, nafsu makan minum berkurang
d. Nyeri sendi, nyeri otot (pegal - pegal)
e. Nyeri kepala, pusing
f. Nyeri atau rasa panas di belakang bola mata
g. Wajah kemerahan
h. Nyeri perut
i. Konstipasi (sulit buang air besar) atau diare

Tanda - tanda yang menunjukkan penderita perlu mendapat pemeriksaan media karena keganasan virus dan pertahanan tubuh yang lemah, antara lain:
  1. Muntah darah segar (merah) atau muntah hitam
  2. Buang air besar berwarna hitam
  3. Sesak nafas yang makin lama makin sesak meski demam telah teratasi
  4. nyeri perut yang makin nyata, diiringi dengan pembesaran lingkar perut
  5. Kesadaran menurun tanpa syok, nyeri kepala atau pusing hingga muntah nyemprot, pandangan makin lama makin kabur.

Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium darah :
  1. Adanya trombositopenia, yaitu jumlah trombosit < 150.000 /mm (normalnya 150 - 450 ribu/mm )
  2. Hemokonsentrasi, yaitu pengentalan darah akibat perembesan plasma (komponen darah cair non seluler), ditandai dengan nilai Hematokrit (Hct) yang meningkat 20% dari nilai normalnya.

Masa Inkubasi
Masa inkubasi terjadi selama 4-6 hari

Penularan

Penularan DBD terjadi melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti / Aedes albopictus betina yang sebelumnya telah membawa virus dalam tubuhnya dari penderita demam berdarah lain. Nyamuk Aedes Aegypti berasal dari Brazil dan Ethiopia dan sering menggigit manusia pada waktu pagi dan siang.

Orang yang berisiko terkena demamberdarah adalah anak - anak yang berusia di bawah 15 tahun, dan sebagian besar tinggal dilingkungan lembab, serta daerah pingiran kumuh. Penyakit DBD sering terjadi di daerah tropis, dan muncul pada musim penghujan. Virus ini kemungkinan muncul akibat pengaruh musim / alam serta perilaku manusia.


Pencegahan

Pencegahan penyakit DBD menurut Kristina, Isminah, Leny Wulandari menggunakan beberapa metode, yaitu:
  1. Lingkungan
    Metode lingkungan untuk mengendalikan nyamuk tersebut antara lain dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), pengelolaan sampah padat, modifikasi tempat perkembang biakan nyamuk hasil samping kegiatan manusia, dan perbaikan desain rumah. Contoh: menguras bak mandi/penampungan air sekurang - kurangnya sekali seminggu
    Menganti / menguras vas bunga dan tempat minum burung seminggu sekali
    Menutup dengan rapat tempat penampungan air
    Mengubur kaleng - kaleng bekas, aki bekas dan ban bekas disekitar rumah dan lain sebagainya

  2. Biologis
    Pengendalian biologis antara lain dengan menggunakan ikan pemakan jentik (ikan adu/ikan cupang), dan bakteri (Bt.H-14)

  3. Kimiawi
    Cara pengendalian ini antara lain dengan:
    • Pengasapan / fogging (dengan menggunakan malathiion dan fenthion), berguna untuk mengurangi kemungkinan penularan sampai batas waktu tertentu.
    • Memberikan bubuk abate (temephos) pada tempat - tempat penampungan air seperti, gentong air, vas bunga, kolam dan lain - lain.

Cara - cara diatas disebut 3M Plus, yaitu menutup, menguras, menimbun. Selain itu juga melakukan beberapa plus seperti memelihara ikan pemakan jentik, menabur larvasida, menggunakan repellent, memasang obat nyamuk, memeriksa jentik berkala, dll.

Ada cara lain yang bisa ditempuh tanpa harus opname di rumah sakit, tapi butuh kemauan yang kuat untuk melakukannya. Cara itu adalah sebagai berikut:
  1. Minumlah air putih min. 20 gelas berukuran sedang setiap hari (lebih banyak lebih baik)
  2. Cobalah menurunkan panas dengan minum obat penurun panas (paracetamol misalnya)
  3. Beberapa teman dan dokter menyarankan untuk minum minuman ion tambahan seperti pocari sweat
  4. minuman lain yang disarankan: jus jambu merah untuk meningkatkan trombosit (ada juga daun angkak, daun jambu dsb)
  5. Makanlah makanan yang bergizi dan usahakan makan dalam kuantitas yang banyak
  6. ( meskipun biasanya minat makan akan menurun drastis)

Sumber: Dari berbagai sumber
SHARE THIS: Bagikan artikel ini ke teman-teman Facebook Anda







 Artikel Lainnya :







PALANG MERAH INDONESIA PROVINSI JAWA TIMUR
Jl. Karang Menjangan 22 Surabaya
Telp. (031) 5055173, 5055174, 5055175, 5055176 Fax. (031) 5055174
e-Mail: jawa_timur@pmi.or.id     Web: www.pmijawatimur.com


Copyright © 2009-2017 PMI Provinsi Jawa Timur. All right reserved.