Home        Profil        Sumber Dana        Donasi        Berita        Artikel        Tabloid GELORA        Gallery        Hubungi Kami    
    Home
    Profil
    Sejarah
    Visi & Misi
    Struktur
    Pengurus
    Serba-Serbi
    Syarat Pedonor Darah
    Jumlah Donor Darah Sukarela
    Daftar Alamat Kab./Kota
    Alamat UTD
    Seputar UTD
    Seputar Relawan
    Peta Rawan Bencana
    Hubungi Kami
Visitor:

638896




MERAJUT KEHIDUPAN

Kerupuk-kerupuk yang Menghidupi

SHARE THIS: Bagikan artikel ini ke teman-teman Facebook Anda



Jangan meremehkan krupuk. Bobot barangnya memang ringan. Tetapi sebagai komoditas dagangan, benda "kriuk-kriuk" ini mampu melambungkan tinggi-tinggi bagi siapapun yang tekun memperdagangkan. Tak percaya? Tanya kepada Subarjo (55 tahun), dan tak perlu jauh-jauh sampai kepada Loddy Gunadi, Direktur PT Sekar Laut yang memang top dengan kerupuk Finna buatannya. Dengan tekun mengolah dan berjualan beragam krupuk, Barjo mampu menghidupi keluarganya dan meluluskan dua anaknya dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dan menjadi sarjana.

"Samubarang pakaryan kuwi, yen ditemeni, mesthi bakal nguripi," ujar laki-laki asal Gemolong, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah ini. Ia memegang prinsip Jawa itu, bahwa (artinya) suatu pekerjaan itu kalau ditekuni pasti akan menghidupi. Prinsip itu dipegang dan diyakininya sejak awal menjatuhkan pilihannya untuk hidup dengan berjualan kerupuk, yaitu sekitar tahun 1985.

Laki-laki kelahiran tahun 1955 itu memang tidak tiba-tiba memutuskan untuk hidup dengan kerupuk. Di usia 24 tahun ia meninggalkan pekerjaan jadi buruh tani karena diajak seseorang asal Bandung untuk mengadu nasib di Surabaya. Ternyata untuk berjualan kerupuk Bandung. Ia tinggalkan isteri tetap di desa. Setiap hari di Surabaya Barjo memikul krupuk keluar masuk kampung dan warung-warung untuk melayani pelanggan. Setahun kemudian ia membeli sepeda dan digunakan untuk berdagang.

Barjo diam-diam mengamati bagaimana proses pembuatan kerupuk itu, mulai mencari bahannya, menjemur/ mengeringkan, menggoreng, hingga siap dijual. Dari hidup dan bekerja "ikut orang" itu Barjo mengaku hanya bisa menghidupi isteri dan anaknya yang masih kecil. Tidak lebih dari cukup untuk hidup sehari-hari. Waktu itu isterinya sudah diboyong ke Surabaya.

Karena dirasakan tidak ada perubahan, pikirannya menerawang bahwa masa depan anak-anaknya akan memerlukan banyak biaya. Setiap hari minta pertimbangan dengan isterinya untuk kemungkinan keluar dari pekerjaannya dan mencari pekerjaan lain yang menjanjikan. Tetapi tidak juga ketemu. Maklum ia hanya lulusan Tsanawiyah swasta (setingkat SMP). Karena ketrampilannya hanya di bidang perkrupukan, maka ia berniat membuat kerupuk dan menjualnya sendiri. Tetapi setelah dihitung-hitung perlu modal cukup besar.

Mempelajari Pasar

Sambil tetap berjualan kerupuk, Barjo pun diam-diam mempelajari keadaan pasar. Sampai akhirnya ia menemukan bahwa di pasaran banyak dijual kerupuk mentah siap goreng. Dari situlah muncul gagasan untuk membeli kerupuk mentah itu lalu digoreng dan diedarkan sendiri. Dengan demikian kerupuk jualannya sudah milik sendiri dan bisa dimulai dengan sedikit modal.

Pulang kampung ke Sragen pada Hari Raya tahun 1985, ia memperoleh pinjaman uang dari iparnya Rp 400.000. Kembali di rumah petak kontrakannya di Banjarsugihan, Kec. Tandes, dengan ditambah sedikit tabungannya ia belanja alat penggoreng dan kompor gas di Pasar Turi. Barjo menceraikan "kerupuk Bandung" dan ganti haluan menjual kerupuk sendiri. Beragam kerupuk digorengnya, yaitu kerupuk putih, kerupuk usus, kerupuk brintik, kerupuk puli, dan kerupuk "pedas".

"Hari pertama sangat seret. Lama-lama laku juga, dan alhamdulillah hasilnya lebih baik" kata bapak tiga anak ini. Dalam setahun ia sudah bisa mengkredit sepeda motor bebek, yang kemudian dipakai untuk berjualan.

Sekarang sehari rata-rata membawa sekitar 75-100 renteng. Harganya Rp 400/bungkus, atau Rp 4.000/renteng. Khusus kerupuk putih per plastik isi 5 buah dijual Rp 800/ plastik, dan warung menjual Rp 1.000.

Dari sini Barjo mengambil untung antara Rp 500 sampai Rp 1.000 per renteng. Barjo enggan mengaku sehari meraih untung berapa. Tetapi secara matematis sehari setidaknya antara Rp 75.000 sampai Rp 100.000. Kadang kerupuk yang dititipkan di warung tak semuanya laku.

Bangkit Setelah Kepepet

Jiwa kewiraswastaan Barjo bangkit setelah kepepet. Kini mekanisme kerjanya sudah diatur. Ketika pagi-siang ia menjual kerupuk, di rumah isterinya mulai nyicil goreng kerupuk. Setelah pulang dan istirahat, sejak sore hingga malam mereka mengemas kerupuk ke dalam plastik sesuai jenisnya. Kemudian direntengi per-10 biji (jinahan) untuk dijual esok harinya.

Dari jerih payahnya ia membeli sebidang tanah di Kel. Babat Jerawat. Sudah dibangun rumah, meski dinding temboknya belum diplester sampai sekarang. Tetapi yang sangat membanggakan, anak sulungnya lulus S1 Unesa, dan kini magang (sukarelawan) di sebuah SMA swasta. Bahkan akhir tahun lalu anak keduanya, perempuan, juga menyusul lulus dari Unesa.

"Waduh Mas, kula bangga sanget! Engatase namung bakul kerupuk mawon saget nyekolahke anak kaleh dados sarjana," kata Barjo mantap kepada GELORA. Barjo enggan dipotret untuk menjaga perasaan anak-anaknya agar tidak malu melihat bapaknya sebagai penjual kerupuk.

Di sela menekuni kerupuk ternyata ia juga memanjakan hobinya dengan memelihara burung ocehan. Datanglah rejeki tambahan bila burung peliharaannya dibeli orang. Namun juga pernah terjadi kisah tragis tentang burung Hwaby-nya mati gara-gara "keplepeken" asap penggorengan kerupuknya.

Lain Subarjo lain pula dengan Margono. Bujangan asal Mojokerto ini juga menjual kerupuk, tetapi hanya mengambil dari majikan. Setiap hari membawa dua plastik raksasa untuk diedarkan menggunakan "rengkek" (keranjang besar yang diletakkan di jok belakang sebelah kanan dan kiri sepeda motor). Sekarung plastik besar biasanya isi 1000 kerupuk. Kerupuk itu dikemas dalam kaleng dan dititipkan ke warung-warung. Oleh pihak warung dijual Rp 200/biji. Dari sini Margono mengambil untung Rp 50/biji.

Sekali lagi jangan meremehkan kerupuk. Sebagai komoditas panganan yang merakyat, jika ditekuni sungguh-sungguh ternyata bisa menghidupi. Bahkan tidak sedikit orang belum merasa puas bila tidak menggunakan kerupuk sebagai lauk sampingannya. Itulah kerupuk-kerupuk yang menghidupi. (bam)

[Sumber: GELORA no.70/Tahun X/2010]

SHARE THIS: Bagikan artikel ini ke teman-teman Facebook Anda







 Merajut Kehidupan Lainnya :







PALANG MERAH INDONESIA PROVINSI JAWA TIMUR
Jl. Karang Menjangan 22 Surabaya
Telp. (031) 5055173, 5055174, 5055175, 5055176 Fax. (031) 5055174
e-Mail: jawa_timur@pmi.or.id     Web: www.pmijawatimur.com


Copyright © 2009-2017 PMI Provinsi Jawa Timur. All right reserved.